Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
eproduk
chrome
banner1
banner2
Pengembangan Peternakan Melalui "Kampung Ternak" PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Selasa, 21 Mei 2013 08:47

PEMBENTUKAN  ”KAMPUNG TERNAK”

Merencanakan pengembangan usaha peternakan rakyat melalui pembentukan “Kampung Ternak”. Model ini bertujuan untuk merancang pembangunan sentra peternakan yang sering disebut dengan Village Breeding Center (VBC) yang keberlanjutan dan sesuai dengan kondisi agroekosistem. Model kampung ternak diharapkan mampu menciptakan peluang pengembangan, dengan lebih banyak melibatkan masyarakat yang kemudian secara kesepakatan bersama mampu untuk diimplementasikan.

Konstruksi kampung ternak kambing dirancang dalam suatu kawasan Desa, di mana sebagian besar masyarakatnya diarahkan untuk memelihara ternak kambing, sehingga kawasan tersebut akan menjadi sumber ternak dengan populasi yang meningkat tajam dan stabil.

Loka Penelitian Kambing Potong melalui program Diseminasi akan membentuk 2 lokasi Kampung ternak yaitu : Kabupaten Asahan Propinsi Sumatera Utara dan Kabupaten Tanah Datar Propinsi Sumatera Barat.

Hasil Seleksi Lokasi

 

Setelah dilakukan survey terhadap beberapa Desa untuk menentukan lokasi kegiatan, maka diperoleh skor atau nilai masing-masing Desa, dilakukan dengan metode wawancara dan peninjauan terhadap ternak dan kandang. Seluruh data dikumpul dan ditabulasi untuk memperoleh nilai rata-rata serta rangking tertinggi dengan nilai kelayakannya.

Tabel 1. Hasil seleksi lokasi pada 4 Desa yang telah ditentukan

 

No

Desa

Nilai

Rank

Kelayakan

 

1

Sukadame, Pulo Bandring

388,5

1

78%

2

Taman Sari, Pulo Bandring

333,8

2

67%

3

Mekar Sari, Buntu Pane

291,4

4

58%

4

Pinanggripan, Air Batu

306,7

3

61%

 

Dari tabel tersebut di atas maka Desa Suka Dame adalah memperoleh ranking tertinggi dengan nilai 388,5 dan sekaligus terpilih menjadi kampung ternak Boerka.

Seleksi Induk Kambing

Salah satu kegiatan yang akan dilakukan adalah program perkawinan untuk membentuk kambing Boerka (Persilangan kambing Boer dan kacang) kambing Boer diperoleh dari Lolit Kambing Potong Sungei Putih sebanyak 6 ekor (dipinjamkan), sedangkan kambing kacang (lokal) sebanyak 100 ekor adalah milik petani (kelompok). Untuk memperoleh hasil atau keturunan yang baik maka dilakukan terlebih dahulu seleksi induk kambing yang ada di Desa tersebut. Untuk memperoleh induk kambing yang sehat dan produktivitas yang tinggi maka dibuat ketentuan seleksi di antaranya adalah :

a. Jenis ternak yang digunakan adalah kambing lokal

b. Umur maksimal 2 tahun

c. Tidak dalam keadaan bunting

d. Ternak dalam keadaan sehat.

Setelah dilakukan seleksi induk diperoleh sebanyak 65 ekor yang siap untuk dikawinkan. Kekurangan induk sebanyak 35 ekor lagi segera akan diusahakan untuk dipenuhi oleh kelompok. 

Bagi peternak yang memiliki kambing selain lokal yang ingin ikut program tersebut secara perlahan-lahan dapat menukar sebahagian ternak yang sudah tua atau jantan yang ada dengan kambing lokal. Bagi peternak yang masih ingin memelihara kambing kacang dan serasi selama pemeliharaanya tidak dipaksakan untuk ikut dalam program tersebut. Namun perlu dijelaskan bahwa dari hasil penelitian perkawinan kambing Boer dan kacang akan memperoleh hasil yang lebih baik. Karena dapat meningkatkan pertumbuhan ternak kambing lokal

Ternak yang masuk dalam seleksi dicatat didalam buku recording dan diberi tanda dengan memberikan eartag (Nomor telinga) yang terbuat dari alumunium bertujuan mempermudah petugas dalam pengawasan dan pendataan. Bagi ternak yang sudah masuk program seleksi disarankan agar ternak tersebut tidak dijual selama program pembentukan kampung trenak berlangsung terlebih anak yang akan dihasilkan karena akan dikawinkan kembali secara interse untuk memperoleh keturunan berikutnya (F2 dan F3). Diperkirakan membutuhkan waktu selama 4 tahun untuk memperoleh bangsa baru yaitu kambing Boerka.

Pelatihan manajemen usaha ternak kambing

Untuk membekali pengetahuan para peternak kambing, telah dilakukan penyuluhan tentang manajemen usaha beternak kambing yang dilaksanakan oleh tim yang berasal dari BPTP dan Lolit kambing dan bekerja sama dengan Dinas Peternakan Kabupaten beserta Penyuluh lapangan (PPL).

Tujuan dari pelatihan tersebut adalah untuk meningkatkan kemampuan dan semangat peternak dalam meningkatkan produktivitas ternak kambing yang dimiliki. Pelatihan yang diberikan berupa : Manajemen perkandangan, kesehatan, nutrisi dan breeding dan kelembagaan. Untuk mendukung perkembangan ternak kambing dilakukan juga persiapan lahan untuk penanaman hijauan pakan ternak sebagai sumber bibit dalam mendukung minat peternak yang ingin mengembangkan tanaman pakan  yang berkualitas dan berkecukupan.

Hijauan yang akan ditanam adalah 3 jenis rumputan antara lain : Kinggrass miniBrachiaria ruziziensis dan paspalum gueonarum. Dan 3 jenis legum yaitu :IndigoferaStylosanthes guianensis dan leuchaena leucoshepala (lamtoro). Tanaman tersebut merupakan tanaman pakan ternak unggul yang memiliki produksi dan nilai nutrisi serta tingkat palatabilitas yang cukup tinggi.

Pemanfaatan lahan di Nagari Salimpaung

Distribusi pemanfaatan lahan sebagai ladang/tegalan sangat dominan yakni  mencapai 733,7 ha atau mencapai 61,52 persen dari total luas areal, yang kemudian disusul areal persawahan mencapai 25,82 persen. Potensi lahan untuk penyediaan hijauan pakan ternak masih tersedia banyak

Mata Pencaharian Penduduk Nagari Salimpaung

Mata pencaharian penduduk di Nagari Salimpaung mayoritas sebagai petani yang mencapai 1.112 orang (85 pesen) dari total tenaga kerja yang ada. Proporsi kedua adalah sebagai pegawai yang mencapai 127 orang (9,70 persen).

 

Tabel 2. Mata pencaharian penduduk Nagari Salimpaung

Jenis mata pencaharian

Orang

Persentase

 

Pegawai

 

127

 

9,70

Pensiunan

22

1,70

Petani

Petani ternak

962

150

85,0

Pedagang/wiraswasta

26

2,00

Pertukangan

20

1,60

Total

1.307

100,00

 

Adapun teknologi yang akan diterapkan pada tahun 2013 adalah :

1. Rencana pembentukan kampung Boerka 25

Jumlah anak

per induk

Jumlah

induk

Total anak

lahir

Total anak

disapih (% hidup)

0

1

2

3

10

35

45

10

0

35

90

30

-

31 (90%)

81 (90%)

18 (60%)

 

100

155

130 (84%)

 

 

 

 

 

Pemulian ternak kambing untuk meningkatkan mutu genetik kambing lokal dengan mengawinkannya dengan kambing Boerka. Diawali dari 100 ekor induk kambing lokal hasil seleksi, Apabila rataan besar litter size kambing diasumsikan sekitar 1.72, dan laju beranak (kidding rate) sebesar 1.55, maka setiap musim beranak dan saat penyapihan akan diproduksi anak-anak kambing sebagai berikut :

2. Introduksi Hijauan pakan

Seiring dengan perkembangan ternak kambing saat ini di Desa tersebut seyogianya harus diikuti penyediaan pakan terutama pakan yang berkualitas, sehingga perkembangan ternak tidak menjadi masalah  dengan ketersediaan pakannya.

Adapun jenis hijauan pakan yang di introduksi adalah jenis unggul leguminosa (Indigofera) dan rumput Brchairia ruziziensis seluas 0,5.ha (5.000 m2) potensial dengan nilai nutrisi tinggi dan beradaptasi baik pada berbagai lingkungan.

3. Teknologi silase limbah pertanian

Silase adalah bahan pakan ternak berupa hijauan atau limbah pertanian yang disimpan dalam bentuk segar mengalami proses ensilase. Pada prinsipnya adalah menghentikan pernafasan dan penguapan sel-sel tanaman, mengubah karbohidrat menjadi asam laktat, menahan aktivitas enzim dan bakteri pembusuk dalam keadaan hampa udara. Adapun tujuan kegiatan ini adalah untuk mengatasi kekurangan pakan dimusim kemarau atau, jika ternak tidak mungkin digembalakan. Meningkatkan masa simpan, palatabilitas dan kandungan energi bahan pakan yang disilase. Penerapan teknologi silase limbah hortikultura seperti terong, buncis, lobak dll, yang saat ini belum dimanfaatkan oleh petani dapat diolah menjadi sumber pakan ternak.

LAST_UPDATED2
 
Joomla Templates by JoomlaVision.com